iklan terbaik september

73476___BOSE_SAMARA

Materi perkuliahan

 

materi perkuliahan riset media dapat diunduh disini

KONTRIBUSI PENELITIAN

media riset RPS

penelitian sekudner

 

UBAH APAPUN KECUALI ISTRI ANDA….BELAJAR DARI SAMSUNG

Setelah Vaio, kini Sony merencanakan juga untuk menjual divisi Sony Xperia dan divisi televisi Bravia. Vaio, Xperia dan Bravia adalah deretan brand tangguh. Duka kepiluan terasa membayang menyaksikan kejatuhan brand legendaris dari Jepang ini.
Sampai kapan Sony mampu bertahan, sebelum maut menjemputnya untuk tidur dalam keabadian?
Dan apa hubungan lenyapnya gairah seksualitas dengan drama kejatuhan tragis perusahaan Sony?
Rencana Sony untuk melepas divisi smartphone Sony Xperia dan televisi Bravia (setelah menjual Vaio beberapa bulan lalu) memang terasa amat perih. Hanya bisnis Playstation yang mungkin menyelamatkan mereka. But how long can Sony survive?
Salah satu opsi yang amat pahit untuk Sony mungkin adalah ini : membiarkan ikon kebanggaan Jepang ini dicaplok dan diakuisisi oleh Samsung.
Look. Profit Samsung tahun lalu tembus Rp 250 triliun. Sony? Rugi 25 triliun. Betapa jauhnya perbedaan kinerja ini, bagaikan langit dan bumi.
Padahal 25 tahun lalu, petinggi Sony selalu tertawa sarkastis dan penuh hinaan setiap mendengar kata Samsung (dulu, saat Sony masih menjadi dewa dalam jagat elektronik dunia, dan Samsung hanyalah produsen kulkas dengan kualitas abal-abal).
Veteran pegawai Samsung berkisah, betapa sakitnya hati mereka dulu, karena sering di-bully dan dianggap anak kere oleh para manajer Sony (“Disitu kadang kami merasa sedih”, demikian pegawai Samsung itu bercerita).
Namun rasa sakit hati itu mungkin juga menjelma menjadi dendam membara. Hampir semua pegawai Samsung selalu punya tekad untuk menaklukkan dan menghancurkan Sony, suatu hari nanti.
Untuk mewujudkan tekad itu, CEO Samsung pada tahun 1995 merilis program perubahan besar-besaran (transfromasi masif) untuk meningkatkan mutu dan inovasi produk Samsung.
Slogan yang mereka usung saat itu bunyinya heroik : CHANGE EVERYTHING EXCEPT YOUR WIFE. Ubah semuanya. Ubah semua proses bisnis, perilaku dan budaya kerja. Ubah semuanya kecuali istrimu. Demi Samsung yang lebih hebat. Kalau slogan kalian mungkin kebalikan dari slogan samsung itu. Change your wife every two years.
Pada akhirnya, rasa sakit hati dan heroisme Samsung itu itu mendapatkan validasi. Kini revenue dan profit Samsung jauh diatas Sony. Profitnya bahkan triliunan kali lipat.
Tak terbayangkan, bahwa kini profit Samsung 250T dan Sony justru rugi 25T; dan Samsung siap mencaplok Sony. Banyak penduduk Jepang yang akan mrebes mili jika ikon kebanggaan mereka sampai dicaplok oleh “perusahaan abal-abal” dari sebuah negeri yang dulu pernah mereka jajah.
Pelajaran dari kisah Sony mungkin ini : jangan pernah bersikap arogan dan menyepelekan calon rival. Sebab arogansi hanya akan membawamu dalam ciuman kematian. Arogansi akan pelan-pelan membuatmu terpelanting dalam kesunyian. Samsung mungkin sebagian besar telah sukses menggilas Sony (yang dulu selalu menghinanya dengan ledekan penuh rasa jumawa).
Namun barangkali juga ada faktor lain yang lebih fundamental, dan ikut membuat Sony limbung.
Faktor itu adalah fakta bahwa negeri Jepang adalah negeri yang menua (aging nation). Studi demografis menulis, dalam 40 tahun ke depan penduduk Jepang akan berkurang 25%. Dan kemudian 90 tahun lagi, penduduk Jepang akan lenyap hingga 60%-nya.
Ya, bangsa Jepang pelan-pelan akan punah dalam makna yang sebenar-benarnya.
Kenapa penduduk Jepang pelan-pelan punah? Karena 90% perempuan muda Jepang enggan menikah dan punya anak. Ribet dan mahal. Mereka lebih suka menjadi Jomblo Forever.
Yang lebih pahit. Penduduk Jepang yang sudah menikah juga makin kehilangan gairah seksual dengan pasangannya. Data dari Japan Family Planning menyebut, lebih dari 50% pasangan Jepang hanya melakukan hubungan seksual sebulan sekali. Bahkan banyak diantaranya yang hanya tiga bulan sekali. (disitu kadang saya merasa sedih).
Kombinasi perempuan jomblo yang enggan menikah dan punya anak, serta pasangan yang makin tidak bergairah secara seksual, membawa akibat fatal. Apa itu? Jumlah bayi baru yang lahir di Jepang kian merosot. Apa akibat selanjutnya? Penduduk Jepang lebih didominasi oleh penduduk yang tua dan uzur. An aging nation. Negeri yang Menua.
Fenomena itu lazim juga disebut sebagai “demographic death spriral”. Negeri Jepang kian menua, dan pelan-pelan terjebak dalam spiral kematian yang membuat mereka punah.
Apa implikasi dari “gejala negeri yang menua” ini bagi perusahaan bisnis?
Sama. Perusahaan-perusaaan Jepang juga kian menua. Dalam arti, pegawainya akan lebih banyak didominasi orang-orang tua (berusia 50 tahun keatas). Bagi perusahaan seperti Sony yang bergerak di industri elektronik dan digital, fenomena itu bisa berarti petaka. Kenapa? Sebab dalam industri elektronika berbasis digital, dinamika kompetisi dan inovasinya bergerak dengan kecepatan tinggi bagaikan kilat.
Sementara jika sebuah perusahaan lebih didominasi oleh “pegawai tua yang senior”, acapkali iklim inovasi tidak bisa tumbuh dengan subur. Pegawai-pegawai yang senior (dan sudah karatan) acapkali lebih resisten dengan dengan perubahan. Pegawai yang senior juga sering punya ego tinggi, dan enggan bekerjasama dengan lainnya. “Sebab hey, gue kan sudah senior dan ratusan tahun kerja disini” ?
Negeri yang makin menua. Perusahaan dengan mayoritas pegawai yang kian uzur. Fakta ini yang boleh jadi merupakan salah satu faktor fundamental dibalik kejatuhan Sony. Tragisnya : fenomena penuaan alamiah itu dipicu oleh kian lenyapnya gairah dan libido seksual penduduk Jepang.
Tak terbayangkan, sebuah ikon legendaris Jepang yang dulu begitu digdaya jatuh hanya karena sebuah faktor yang amat sederhana. Faktor itu adalah : kegagalan untuk merasakan orgasme seksualitas.
(Artikel via broadcast WA)
disadur dari

Irwin F.
 
Smart and Fun with Korea

materi tindes B

revolusi industri

INDUTRIALISASI DAN

Modernisme Desain

pENGANTAR

Picture Exchange Communication System (PECS)

Picture Exchange Communication System (PECS)  adalah suatu pendekatan untuk melatih kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal (Bondy dan Frost, 1994:2). PECS dirancang oleh Andrew Bondy dan Lori Frost pada tahun 1985 dan mulai dikenalkanpada publik pada tahun 1994 di Amerika Serikat. Awalnya PECS    ini digunakan untuk  siswa-siswa pra sekolah yang mengalami autisme dan kelainan lainnya yang berkaitan dengan gangguan komunikasi. Siswa yang menggunakan PECS ini adalah mereka yang perkembangan bahasanya tidak menggembirakan dan mereka tidak memiliki kemauan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pada perkembangan selanjutnya, penggunaan PECS telah meluas dapat digunakan untuk berbagai usia dan lebih diperdalam lagi.

images (3)

PECS pada prinsipnya merupakan upaya merangsang komunikasi anak secara spontan. Penggunaan bahasa visual sebagai ganti bahasa verbal merupakan upaya mediasi awal menuju proses komunikasi yang lebih rumit. Proses visual dalam berkomunikasi pada gilirannya menjadi pemicu ungkapan-ungkapan secara verbal. PECS dapat dilihat sebagai upaya pemberian rangsangan secara visual. Proses tersebut dapat dikerjakan dalam beberapa fase. Fase yang berbeda menunjukkan tingkat  levelisasi kemampuan dan perkembangan anak. Pada tahap awalnya anak diperkenalkan dengan simbol-simbol non verbal. Namun pada fase akhir dalam penggunaan PECS ini, anak dimotivasi untuk berbicara. Meskipun PECS bukanlah program yang dirancang untuk mengajarkan anak autis cara berbicara tetapi pada gilirannya program tersebut mendorong kemampuan anak berkebutuhan khusus untuk berkomunikasi dengan lebih baik.

Beberapa penelitian yang tekah dilakukan menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya dampak negatif dari penggunaan PECS  (Bondy, 2001) . Fenomena dilapangan menunjukkan bahwa anak-anak autis yang menggunakan PECS   perkembangan keterampilan bicaranya lebih cepat dibandingkan dengan yang tidak menggunakan PECS   (Bondy, 2001). Yoder dan Stone (2006) membandingkan antara anak-anak yang menggunakan PECS   dengan sistem yang lain. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak  autis yang dilatih dengan PECS memiliki kemampuan  verbal yang lebih baik dibandingkan dengan yang lain. PECS ini akan lebih efektif mendorong anak autis untuk lebih verbal jika dilatihkan pada anak berusia di bawah enam tahun.

Berdasarkan pengalaman Wallin (2007:1) ada beberapa keunggulan yang dimiliki oleh PECS)   ini, diantaranya:

1)        Setiap pertukaran menunjukkan tujuan yang  jelas dan mudah dipahami. Pada saat tangan anak menunjuk gambar atau kalimat, maka dapat dengan cepat dan mudah permintaan atau pendapatnya itu dipahami. Melalui  PECS, anak telah diberikan jalan yang lancar dan mudah untuk menemukan kebutuhannya.

2)        Sejak dari awal, tujuan komunikasi ditentukan oleh anak. Anak-anak tidak diarahkan untuk merespon kata-kata tertentu atau pengajaran yang ditentukan oleh orang dewasa, akan tetapi anak-anak didorong untuk secara mandiri memperoleh mediasi komunikasinya dan terjadi secara alamiah. Guru atau pembimbing mencari apa yang anak inginkan untuk dijadikan penguatan dan jembatan komunikasi dengan anak.

3)        Komunikasi menjadi sesuatu penuh makna dan tinggi motivasi bagi anak autis.

4)        Material (bahan-bahan) yang digunakan cukup murah, mudah disiapkan, dan bisa dipakai kapan saja dan dimana saja. Simbol PECS dapat dibuat dengan digambar sendiri atau dengan foto.

5)        PECS tidak membatasi anak untuk berkomunikasi dengan siapapun. Setiap orang dapat dengan mudah memahami simbol PECS sehingga anak autis dapat berkomunikasi dengan orang lain tidak hanya dengan keluarganya sendiri.

Pembelajaran komunikasi melalui PECS  ini dimulai dari objek yang benar-benar anak inginkan. Oleh karenanya menurut Bondy dan Frost (1994) dalam penerapan PECS ini perlu adanya penggunaan modifikasi perilaku. Melalui modifikasi perilaku tersebut akan diketahui apa yang anak inginkan. Objek yang diinginkan tersebut akan menjadi penguatan bagi anak untuk melakukan komunikasi melalui pertukaran gambar. (Bersambung)

Kekasih, Pasangan Hidup dan Sahabat,

Sebuah cerita menarik dari obrolan seorang sahabat di malam Sabtu yang lalu
yang kebetulan tengah berkunjung ke Kota saya kemarin…., yang bercerita
soal perjalan hidup sang sahabat yag saat ini sudah sukses menjadi seorang
pengusaha jasa ekspor impor. Seorang teman yang berangkat dari keluarga yang
sangat sederhana yang merantau seorang diri ke Jakarta tanpa siapapun yang
di kenalnya namun hari ini sukses secara finansial dengan tetap menjadi
pribadi yang “humble” di mata saya.

Saya biasa panggil dia Mas Gie, seorang teman kuliah lama yang waktu itu
merasa senasib dari golongan Ekonomi “middle Low” di Kampus karna sama-sama
prihatin waktu kuliah dulu…, namun tiada yang menyangka dirinya saat ini
sudah jauh lebih sukses di banding teman-teman yg lain.

Obrolan demi obrolan berjalan, mulai dari ceritanya selepas kuliah yang mana
saya tau pada saat itu dia kuliah sambil bekerja sebagai Sales frelance,
lepas kuliah pun masih terus bergelut di Sales sampai akhirnya dia
memberanikan diri untuk benar-benar memulai pasion hidupnya menekuni
usahanya yang sampai sekarang.

Dari Obrolan yang produktif ini saya teringat ketika kita berdiskusi soal
makna dari bekerja sesungguhnya yang berhubungan dengan orang2 di sekeliling
kita, waktu itu saya mengatakan bahwa orang bekerja sama dengan orang
menikah, bisa jadi sebuah jodoh, karna suka tidak suka hidup kita yang 8 jam
sehari pasti begelut disana, di pekerjaan kita, sehingga penting untuk
benar2 mencintai pekerjaan kita sama halnya mencintai pasangan hidup kita.
Segala argumen diskusi muncul, yang menjelaskan bahwa orang yang sukses
dalam pekerjaannya adalah orang yang mencintai pekerjaannya dan tentunya
pekerjaannya /perusahaannya juga mencintai dia, sama seperti kebahagian
orang berumah tangga yang saling mencintai.

Namun tanpa disangka Mas Gie memberikan pandangan yang berbeda yang buat
saya cukup menarik. Pandangannya adalah hubungan antara pekerjaan dengan
Pasangan hidup, Kekasih dan Sahabat. Dirinya mengatakan idealnya kita punya
sekaligus tiga hal tersebut dalam satu waktu bersamaan namun kemudian
tinggalkan yang satu…., hmm.. sejenak saya sempat berfikir kalo punya
pasangan hidup dan sahabat2 mungkin hal yang biasa, namun punya pasangan
hidup dan kekasih…, hufftt… selingkuhan dong hehehe….,

Diskusi kemudian berlanjut lebih dalam atas pandangannya itu, dia
mengatakan…, ketika kita bekerja kita bagi 3 hal tersebut dalam aktifitas
kerja kita, dia kemudian menjelaskan bahwa Pasangan Hidup harusnya adalah
Bisnis kita yang sedang/akan kita tekuni, Kekasih adalah pekerjaan kita saat
ini, dan Sahabat adalah waktu kita berhubungan dengan Network bisnis, teman2
dan Informasi2 yang akan membantu baik di bisnis maupun di pekerjaan kita.

Dengan mimik muka yang lebih serius kemudian dia menjelaskan Pasangan hidup
adalah bisnis kita sendiri, kenapa harus dikatakan pasangan hidup?, karena
suka tidak suka dialah yang akan menemani hidup kita sampai akhir
nanti..,menopang hidup kita dan keluarga . idealnya cinta kita yang paling
dalam haruslah di Bisnis kita sendiri bukan kepada yang lain, makanya ketika
memilih rencana bisnis yang akan kita geluti kita wajib punya “pasion” dan
kecintaan yang tulus terhadap bisnis tersebut.

Lalu diapun menjelaskan yang disebut dengan Kekasih, ya.. kekasih itu adalah
pekerjaan kita saat ini, kenapa? Yang namanya kekasih itu kan cenderung
orang yang saling mencintai pada saat itu dan merasa saling membutuhkan,
ketika tidak lagi ada rasa mencintai dan membutuhkan mungkin sudah tidak
lagi menjadi kekasih, dan jalan masing2, atau juga ketemu dengan yang lain
dan pindah ke lain hati juga bisa, atau yang sering terjadi adalah cinta
yang bertepuk sebelah tangan hehe…, itulah katanya yang mendasari orang
pindah pindah2 bekerja karna pada dasarnya your job is your Lover, when it’s
done it’s done no matter what the reason is.

Sahabat bagi Mas Gie mendefinisikannya sebagai waktu kita bernetworking
bersama teman2, rekan bisnis dan jaringan2 kita lainnya, dengan asumsi
bahwa seorang sahabat adalah orang yang benar-benar dekat dengan kita baik
di saat suka dan duka orang yang cenderung menolong kita dengan tulus ketika
kita kesusahan dan dan orang yang kita ajak bersama ketika senang, sama
halnya ketika kita berpacaran atau dengan pasangan hidup kita, ketika sedang
bermasalah biasanya kita cenderung curhat dan monta pertolongan dengan para
sahabat kita.

Lebih lanjut diskusi kemudian melebar mengenai Pasangan hidup dan kekasih,
orang sering kali salah mengartikan, tertukar antara Pasangan hidup dan
kekasih, pekerjaannya dianggap sebagai pasangan hidup hingga dia bela
mati-matian demi sebuah posisi bekerja yang tidak akan selamanya dimiliki,
sementara Bisnis yang dirintisnya malah jadi Kekasih…., padahal harusnya
sebaliknya…, dan yang paling ideal itu adalah Kekasih yang kemudian bisa
menjadi pasangan hidup dengan di temani oleh para sahabat yang setia dan
baik…,

“Jika kekasihmu kemudian menjadi pasangan hidupmu dalam arti kata lain kita
menggeluti bisnis yang memang pada awalnya sudah pernah bekerja di bidang
itu maka kamu akan tau persis seperti apa kekasihmu luar dalam gak Cuma
manis2nya aja, dan bisa dipastikan pula kamu sudah memiliki sahabat2 disana
” ujar Mas Gie dengan nada serius

Diskusi semakin hangat sambil makan Lontong Orari + Ikan Haruan saya
kemudian berseloroh ” Wah Mas…, kalo gitu sampean ngajarin aku selingkuh
ya…? hehe, lalu dia menjawab ” Iya tapi Selingkuhi pacarmu aja bukan
Istrimu…. Hahahaha……. ”

Your Husband/wife always stay…, but your Lover Come & Go…, & your Best
Friend will always there……..

disarikan dari :

Wahyu Purnomo
Inspiring, Coaching & Motivating Indonesian Salespeople

Perbaiki Sekolah

Vicki Abeles gelisah. Sebagai ibu rumah tangga ia tak habis pikir
mengapa putrinya yang berusia 12 tahun sakit secara fisik hanya karena
sekolah. Selama 3 tahun ia mencari jawabannya dengan mewawancarai
anak-anak sekolah dan mahasiswa. Kumpulan wawancara itulah yang
dijadikan Vicki sebagai film dokumenter yang diluncurkan tahun lalu. Di
Amerika Serikat sendiri film dokumenter itu memicu perpecahan.

Namun Vicki berhasil mencuri perhatian sehingga para politikus dan
pendidik mau memperbaiki persekolahan. Di banyak sekolah,metode
pengajaran dibongkar.Sekolahsekolah yang terlalu mengedepankan hafalan
mulai merombak diri dengan memberikan lebih banyak ruang bagi siswa
untuk berpikir.Mata ajar biologi, fisika, dan kimia yang dianggap momok
diubah menjadi mata ajar lab yang lebih fun.Anak didik dibuat belajar
seperti seorang scientist berpikir, bukan menghafal. Namun di sekolah
lain, guru-guru justru merasa sebaliknya: murid masih terlalu sedikit
menghafal.

Di sekolah sekolah itu kegelisahan terjadi karena guru menolak cara lain
selain hafalan. Di Indonesia,selain kerasukan setan menjelang
ujian,keributan juga terjadi saat seorang siswa SMA 6 Bulungan Jakarta
tewas terbunuh.Tawuran antarsekolah, bullying, aksi coratcoret sampai
mencontek menjadi masalah sehari-hari. Anakanak yang gelisah tak belajar
dengan baik. Anak-anak kita paksa mempersiapkan masa depan lebih dari
kemampuan mereka. Orang tua yang berambisi mengirim anak-anak ikut les
di sana-sini bahkan memengaruhi guru agar anaknya tidak mengalami
kesulitan di sekolah.

Di Amerika Serikat orang tua murid yang telah ”bertobat”dalam membimbing
anak-anak dengan cara pabrikasi berbicara lantang.”Saya khawatir kelak
anak-anak akan memperadilan- kan kita, orang tua, karena telah mengambil
masa kanak-kanak mereka”. Maka ketika pemerintah di sini berencana
mengurangi beban pelajaran siswa sekolah, ada rasa syukur di hati
saya.Namun kalau pengurangan semata- mata dilakukan hanya untuk
mengurangi jumlah subjeknya saja, bisa jadi kita akan bermuara ke
nowhere juga.

Apalagi kita mengabaikan prinsip-prinsip pembentukan masa depan anak
dengan mempertahankan subjek-subjek yang hanya akan disampaikan secara
kognitif belaka. Pengalaman saya sebagai pendidik menemukan, anakanak
yang pintar di sekolah belum tentu pintar di masyarakat dan kegagalan
terbesar justru terjadi pada anak-anak yang dibesarkan dalam
persekolahan menghafal.Padahal, memorizing is not a good thinking.
Menghafal bukanlah cara berpikir yang baik.

Latih Berpikir

Maka itu,mata ajar yang terlalu bersifat menghafal perlu kita renungkan
kembali, guru guru harus dilatih ulang.Sebab mereka sendiri telah
dibentuk oleh sistem pendidikan menghafal yang sangat merisaukan. Guru
dan murid harus berubah, dari menghafal menjadi berpikir. Melatih
manusia berpikir adalah masalah mendasar yang perlu dipecahkan dalam
sistem pendidikan nasional. Berpikir yang baik akan menghasilkan
karya-karya besar meski berisiko tersesat. Tapi bukankah hanya orang
tersesat saja yang berpikir?

Hanya orang-orang berpikirlah yang tidak mudah tertipu yang tidak
menjadi manusia sempit yang picik, yang tidak memikirkan diri atau
kelompok sendiri, dan tentu saja orang yang berpikir akan menjadi
manusia kreatif. Jadi, bukan hanya mata ajaran yang harus diperbaiki,
teknik mengajar dan isi mata ajaran pun perlu disempurnakan. Jadi saya
kira pendidikan memang perlu disempurnakan, diperbaiki,termasuk cara
berpikir guru dan orang tuanya.

RHENALD KASALI

HIKMAH

Dari begitu banyak sahabat, dan tak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Aku memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. – Umar bin Khattab.

Kebaikan itu ada lima perkara; kekayaan hati, bersabar atas kejelekan orang lain, mengaris rizki yang halal, taqwa,dan yakin akan janji Allah. – Imam Syafi’i

Kebajikan yang mudah adalah dengan menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata lemah-lembut. – Umar bin Khattab




SAYA ADALAH ANAK HARAM

SAYA ADALAH ANAK HARAM

seorang wanita memperkenalkan diri dlm konferensi. mahasiswa sebuah univ terkenal di Amerika.
“Ibuku adalah seorang bisu tuli yg sangat miskin. Suatu hari, Ibuku diperkosa oleh se-org pria, shg aku tak pernah tahu siapa ayahku. Kami hidup sgt miskin, shg dlm umur yg msh sgt muda, aku hrs bekerja bersama dgn ibuku sbg buruh kasar dlm sebuah perkebunan kapas. Aku benci keadaanku. Oleh krn itu, aku jg kecewa kpd Tuhan krn Dia tak adil. Aku tak dpt pahami kenapa aku hrs dilahirkan di dunia ini sedangkan aku tak berguna sama sekali.”
Suatu hari, sesuatu di dlm hatiku berkata-kata:
“Azie, kau dpt memilih, kau mau tetap spt ini / kau mau keluar dr rasa tak berguna ini.
PILIHAN ada DI TANGANmu!”
Akhirnya kupilih, “Aku mau keluar dr rasa tak berguna ini, Aku mau keluar!”
Singkat cerita wanita ini mulai bekerja dgn giat utk mencari uang demi membiayai sekolah & ibunya. Dia bekerja keras shg pd akhirnya dia meraih kesuksesan.
Hari itu, wanita yg mulanya memperkenalkan diri sbg se-org anak haram, berdiri dihadapan para mahasiswa univ. terkenal itu utk membuktikan KEKUATAN DARI SEBUAH PILIHAN, & kini dia jg tahu bhw Tuhan sgt mengasihinya.
Dia adl Azie Taylor Morton, Menteri Keuangan AS

disarikan dari:

Surya
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT